Dominasi dan Hegemoni Kurikulum Pendidikan
(Kritik Terhadap Kurikulum Pendidikan)
Oleh : M. Ma’ruf Hidayat (Si Black Haguro)
Akhir-akhir ini banyak mahasiswa yang mengeluh dikarenakan persoalan kuliah. Fenomena yang sudah tidak asing lagi bahwa mayoritas mahasiswa sangat terbebani dengan serentetan tugas yang diberikan oleh dosen terhadap mahasiswa. Bahkan mereka sangat mengeluh jika dalam waktu bersamaan harus mengerjakan beberapa tugas. Bisa dikatakan para dosen sangat antusias berlomba-lomba dalam memberikan tugas kepada mahasiswa. Alasannya memang sudah tanggungjawab sebagai mahasiswa jika mereka memilih kuliah sudah seharusnya mengerjakan berbagai tugas mata kuliah, karena tugas merupakan seperangkat kompetensi yang dijadikan indicator untuk keberhasilan proses belajar-mengajar. Akibatnya banyak dari mahasiswa yang terkesan ngawur dan asal-asalan dalam mengerjakannya, justru yang lebih ironis lagi ada sebagian mahasiswa yang melakukan plagiat atas kelimuan orang lain, hal inilah yang mengakibatkan mereka meremehkan keilmuan.
Memang dalam menempuh kuliah mahasiswa harus mempunyai kompetensi dan keunggulan dalam bidang yang dipilihnya. Kemudian dengan jalan mengikuti dan mendalami secara menyeluruh terhadap beberapa kegiatan perkuliah mereka akan mampu menguasai seluruh keilmuan yang diembannya. Praktisnya dengan asumsi tersebut, banyak perguruan tinggi yang menerapkan system pendidikan dengan memberi seperangkat kewajiban dan tugas kepada mahasiswa untuk mencapai standar kompetensi yang ditargetkan. Dampaknya, karena terlalu banyaknya tugas dan beban kuliah mahasiswa mengalami dominasi system yang diberlakukan, kemudian, akhirnya mereka sulit untuk mengasah dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Dalam konteks pendidikan humanis, pendidikan diartikan bukan sebagai media untuk “memaksakan” kelimuan kepada peserta didik, tetapi bagaimana pendidikan itu bisa menjadi media untuk melakukan transformasi keilmuan pada peserta didik sesuai dengan kebutuhannya. Pengertiannya, pendidikan dalam konteks humanis tidak hendak melakukan “penindasan” keilmuan, melainkan pendidikan berfungsi sebagai media pengembangan potensi dan kreatifitas peserta didiknya.
Pendidikan humanis cenderung bertujuan sebagai proses pembebasan nalar dan kebodohan manusia. Oleh sebab itu pendidikan humanis menolak segala bentuk dominasi dan hegemoni system yang mengungkung nalar dan kesadaran manusia. Lebih sederhananya pendidikan humanis, adalah pendidikan yang mempunyai visi memanusiakan manusia, dan menjadikan manusia seutuhnya yang mempunyai seperangkat potensi dan kreatifitas dalam dirinya.
Perlu sebuah pemikiran ulang, bahwa pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang memaksakan peserta didik untuk “memakan sesuatu” tapi bagaimana pendidikan itu bisa memberikan cara bagi peserta didik untuk mencari makanan sendiri sesuai yang mereka inginkan. Artinya seorang pendidik tidak seharusnya memaksakan peserta didik menjadi “apa” yang mereka inginkan (pendidik), akan tetapi pendidik seharusnya mengarahkan peserta didik menjadi “apa” yang diinginkan oleh peserta didik.
Oleh sebab itu berdasarkan hal diatas, perlu adanya format baru terhadap system pendidikan. Pendidikan hendaknya tidak seharusnya lagi mempraktekkan system yang cenderung menghegemoni dan mendominasi peserta didik, akan tetapi pendidikan harus lebih berorientasi pada basis kebutuhan peserta didik. Kemudian dalam tataran prakteknya, kurikulum pendidikan harus dirumuskan dengan mempertimbangkan basis potensi dan kreatifitas peserta didik. Semuanya dilakukan dengan tujuan untuk mencetak sumberdaya manusia yang mempunyai seperangkat potensi dan kreatifitas dalam dirinya, serta cakap dalam menjalani kehidupannya.
Berkaiatan dengan hal diatas untuk menciptakan bangsa maju, yang tidak kalah penting bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang ada. Dalam konteks ini, pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu kualitas pendidikan pun juga harus bagus, karena kualitas pendidikan yang merosot juga akan mencerminkan sumber daya manusia yang merosot. Makanya untuk memajukan kualitas pendidikan yang bagus, tidak hanya dengan memperbaiki kurikulum tetapi bagaimana juga harus memahami esensi dari pendidikan itu sendiri, karena belum tentu dengan berganti-ganti kurikulum akan berdampak pada kemajuan pendidikan.
Comments
One Response to “Dominasi dan Hegemoni Kurikulum Pendidikan”
Got something to say?




salam pergerakan !!!!!!!!!!!!!!!!